Kuncinya Manajemen

Kuncinya Manajemen

Akhir akhir ini saya dipusingkan dengan keterlambatan order buku administrasi desa yang saya pesan disalah satu kios fotocopy meong di kota malang, hal ini sudah keduakalinya terjadi dan merupakan kesekian kalinya penundaaan dari pemilik kios terhadap order yang saya pesan, sungguh sebenarnya sangat merugikan konsumen karena waktu selesai order tidak sesuai janji bahakn terus molor dan tertunda dengan berbagai argumen alasan yang dibeberkan. Bahkan sempat sang pemilik kios fotocopy menyerah dan mengembalikan uang dp sebesar 500 rb padahal pekerjaan sudah 60 % selesai tinggal finifsing saja, sayapun tidak tega mengambil dp tersebut karena sudah banrang tentu pekerjaan sebesar 60 % tadi sudah menghabiskan modal terutama kertas hampir 10 rim dan juga tentu sudah menguras tenaga. dalam batin saya ini harus menjadi yang terakhir kali, tidak mungkin lagi saya melakukan order ke tiga kalau cara kerja dan pelayanannya seperti ini.
Tulisan ini sebenarnya bukan sebagai keluhan tetapi ada pelajaran yang ingin saya ambil dan saya sampaikan kepada pembaca sekalian. bahwa pengelola fotocopy tadi sangat lemah dalam hal manajemen, kenapa saya simpulkan demikian? karena saya perhatikan tidak ada sisitem kerja yang baku atau standar operasional prosedur yang dijalankan dalam bisnisnya, semua dijalankan sekendak hati saja. barang barang kertas dan lain lain terkesan berantakan seolah tidak ada penetapan tempat khusus untuk berbagai barang yang ada, ruangan terkesan suram dan kotor tidak ada upaya renovasi atau upaya memperindah dan mempercantik view tampilan yang terlihat konsumen. karyawanpun gonta ganti silih berganti masuk dan berhenti karena mungkin barangkali tidak menemukan kenyamanan dan kepuasan kerja atau boleh juga hasilnya kecil, namun yang pasti karyawwan seperti dianggap robot saja tidak ada pendekatan dan menajemen SDM. beberpa kali saya mendapati konsumen membatalkan order dihadapan saya karena telat dalam mengerjakan, atau mungkin asal terima order tanpa mengukur kemampuan. dan terakhir dari cerita ini sang pemilik berujar kepada saya bahwa dia pusing mengelola bisnis ini.
Dari sekelumit gambaran kios fotocopy di atas menggambarkan jelas betapa lemahnya sisi manajerial bisnis yang dijhalankan olehnya, mungkin itu yang terjadi sebagian besar sektor UKM di Indonesia termasuk kita. bayangkan baru mengelola satu bisnis kecil saja dengan karyawan hanya 1 orang dan lokasi juga petak kecil sang pemilik sudah mengeluh pusing, sementara tidak jauh dari lokasi tersebut ada fotocopy terkenal dimalang dengan Brand "Maestro" berdiri megah dengan puluhan karyawan, tidak hanya fotocopy saja berbagai kenis layanan dijajal mulai dari banner, graftir, stiker, semua jenis percetakan , advertaising dan lain lain bisa digarap dengan maksimal, didalam kantor terkesan sangat rapi dan sisitematis, ada sistem kerja yang diciptakan oleh sang pemilik, ada standar pelayanan dan standar operasional yang dipatuhi semua karyawan, lokasi yang nyaman beraca dan dilengkapi audio visual tv, urutan antri pelanggan yang  sangat teratur, order yang sangat cepat selesai dan banyak lagi kelebihan lainnya, dan ternyata Maestro punya banyak cabang dikoyta malang mungkin sekitar 10 lokasi dan total ratusan karyawan, tetapi tidak membuat sang pengelola pusing layaknya kios fotocopy sebelumnya bahkan terkesan sangat menikmati, yang pada muaranya saya menyimpulkan bahwa kedua gambaran diatas perbedaannya adalah KEMAMPUAN MANAJERIAL DALAM MENGELOLA BISNIS
semua orang bisa memulai bisnis namun tidak semua orang mampu memanajemn bisnisnya

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar